neuroscience empati

mengapa membaca novel bisa membuat kita lebih cerdas secara sosial

neuroscience empati
I

Pernahkah kita mendadak menangis saat membalik halaman terakhir sebuah novel? Atau mungkin, kita pernah merasa dada sesak dan marah besar melihat keputusan bodoh yang diambil oleh tokoh utamanya. Jika dipikir-pikir lagi, ini sebenarnya fenomena yang sangat aneh. Kita duduk diam di pojok kamar. Kita menatap lembaran kertas berisi coretan tinta, atau layar kaca berisi piksel yang menyala. Kita tahu persis bahwa tokoh itu tidak nyata. Mereka tidak pernah lahir, tidak bernapas, dan murni hasil karangan seseorang.

Namun, air mata kita menetes. Jantung kita berdebar lebih cepat. Otot kita menegang.

Pernahkah teman-teman bertanya, mengapa kita rela menghabiskan berjam-jam waktu berharga kita untuk mengkhawatirkan nasib seseorang yang bahkan tidak eksis di dunia nyata? Selama ratusan tahun, membaca fiksi sering dianggap sebagai hiburan semata. Sekadar pelarian dari realitas yang penat. Tapi bagaimana jika saya katakan bahwa tangisan kita untuk tokoh fiksi itu adalah bukti dari sebuah kecanggihan evolusi? Mari kita bongkar bersama apa yang sebenarnya terjadi di balik tempurung kepala kita saat kita tenggelam dalam sebuah cerita.

II

Dalam sejarah manusia, fiksi tidak selalu dipandang positif. Di abad ke-19, ketika novel mulai populer, banyak kaum intelektual yang panik. Mereka khawatir kaum muda, terutama perempuan, akan kehilangan akal sehat karena terlalu banyak membaca novel percintaan. Orang yang terlalu banyak membaca fiksi dilabeli sebagai pemimpi, penyendiri, dan putus kontak dengan realitas. Singkatnya, mereka dianggap kurang pergaulan alias kuper.

Tapi psikologi modern mulai melihat pola yang sama sekali berbeda. Para ilmuwan mulai meneliti sebuah konsep yang disebut Theory of Mind. Ini adalah kemampuan kognitif kita untuk memahami bahwa orang lain memiliki pikiran, keinginan, dan niat yang berbeda dari kita. Sederhananya, ini adalah fondasi dasar dari empati.

Menariknya, saat para psikolog mengetes kemampuan Theory of Mind ini kepada orang-orang dari berbagai latar belakang, mereka menemukan sebuah anomali yang membingungkan. Orang-orang yang menghabiskan banyak waktu membaca novel fiksi sastra justru mencetak skor empati yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang membaca, atau bahkan mereka yang hanya membaca buku non-fiksi. Mereka jauh lebih peka membaca ekspresi wajah. Mereka lebih mahir menebak motivasi orang lain di dunia nyata.

Bagaimana mungkin orang yang menghabiskan waktunya sendirian di kamar bersama buku justru menjadi lebih cerdas secara sosial?

III

Di sinilah misterinya mulai terkuak perlahan. Bayangkan kita sedang membaca kalimat ini dalam sebuah novel: "Dia berlari kencang menerobos hutan, napasnya tersengal, lalu melompat menghindari akar pohon yang mencuat."

Saat membaca kalimat itu, tubuh fisik kita diam. Tapi anehnya, kita bisa merasakan kelelahan tokoh tersebut. Kita bisa merasakan sensasi tersandung. Mengapa susunan alfabet yang mati bisa meretas sistem saraf kita yang hidup?

Jika kita merenung sejenak, pertanyaan besarnya adalah ini: apakah otak kita benar-benar mampu menarik garis tegas antara realitas fisik yang kita jalani, dengan realitas imajinasi yang kita baca? Jika otak tahu itu hanya cerita bohong, dari mana datangnya reaksi fisik yang begitu nyata? Simpan baik-baik rasa penasaran ini. Sebab temuan dari laboratorium neurosains berikut ini tidak hanya akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi mungkin akan mengubah cara kita memandang rak buku di rumah kita selamanya.

IV

Mari kita masuk ke dalam mesin fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging). Alat raksasa ini memungkinkan ilmuwan melihat area otak mana yang menyala saat kita melakukan aktivitas tertentu.

Ketika ilmuwan meminta partisipan membaca kata-kata yang berhubungan dengan aroma, seperti "kopi" atau "parfum", area otak yang memproses penciuman mendadak aktif. Ketika partisipan membaca kalimat "dia menendang bola", bukan cuma area bahasa di otak yang bekerja. Cortex motorik—bagian otak yang secara harfiah mengontrol gerakan kaki kita—ikut menyala terang!

Bagi otak kita, membaca tentang sebuah tindakan hampir tidak ada bedanya dengan melakukan tindakan itu sendiri. Ini terjadi berkat mirror neurons atau neuron cermin. Jaringan saraf ini bertugas menyimulasikan pengalaman orang lain ke dalam sistem saraf kita sendiri.

Lebih jauh lagi, saat kita menyelami konflik batin seorang karakter novel, otak kita mengaktifkan Default Mode Network (DMN). DMN adalah jaringan otak yang menyala saat kita melamun, merenung, dan memikirkan pikiran orang lain. Ketika kita membaca fiksi, otak kita tidak bertindak sebagai pengamat pasif. Otak kita memperlakukan novel sebagai sebuah simulator penerbangan untuk kehidupan sosial.

Sama seperti pilot yang berlatih menghadapi badai di dalam mesin simulator agar tidak panik saat menerbangkan pesawat asli, otak kita menggunakan novel untuk berlatih menghadapi kerumitan manusia. Kita berlatih merasakan patah hati, pengkhianatan, dilema moral, dan cinta yang mendalam, tanpa perlu menanggung risiko kehancuran di dunia nyata. Novel fiksi menginjeksi kita dengan pengalaman hidup ratusan manusia lain.

V

Jadi, teman-teman, empati bukanlah sekadar sifat bawaan yang mistis atau soft skill belaka. Empati adalah otot neuro-biologis. Dan persis seperti otot bisep yang butuh angkat beban agar membesar, otot empati kita butuh dilatih agar tidak menyusut. Novel fiksi adalah barbel yang sempurna untuk gym otak kita.

Di era di mana kita sangat mudah terpolarisasi, gampang marah di media sosial, dan sering melihat manusia lain sekadar sebagai angka atau profil tanpa wajah, membaca fiksi mengambil peran yang sangat krusial. Ia bukan lagi sekadar pelarian dari kenyataan. Membaca fiksi adalah sebuah tindakan perlawanan untuk merawat kemanusiaan kita.

Malam ini, jika kita membuka halaman pertama sebuah novel dan mulai peduli pada tokoh yang tidak pernah ada, ingatlah satu hal. Di saat itu, otak kita sedang merajut kabel-kabel empati yang baru. Kita tidak sedang membuang waktu. Kita sedang berevolusi menjadi manusia yang sedikit lebih pengertian, dan jauh lebih peka terhadap dunia di sekitar kita. Selamat membaca.